Karya Azka Natasyah
Minggu pagi Thalasya mengunjungi sebuah perpustakaan di daerah Jakarta. Perpustakaan itu tampak lebih sepi dari biasanya. Thalasya mulai mencari-cari buku yang menarik. Thalasya melihat buku yang berjudul “Ketahanan Pangan di Masa Pandemi” dan mulai membacanya. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 15.00 dan Thalasya harus segera pulang. Tak lupa, ia meminjam buku tersebut dan membawanya pulang.
Saat tiba di rumah Thalasya kembali membaca buku yang telah dipinjamnya. “Wahh, aku ingin sekali bisa membantu orang di masa pandemi seperti ini,” ujar Thalasya dalam hati. Thalasya mengambil gawai yang terletak di meja belajarnya. Dia menelepon beberapa temannya yang bersedia untuk membantunya melakukan kegiatan bakti sosial bagi warga terdampak virus Covid-19.
Thalasya membentuk kelompok pelajar yang bersedia mengembangkan dan mencari dana untuk warga terdampak. Ada 15 anggota dalam kelompok itu. Kegiatan itu sekarang telah berlangsung selama 2 bulan, dan cukup membantu bagi warga terdampak. Thalasya merasa senang karena dengan membaca ia mendapatkan pengalaman baru.
Pagi hari, Thalasya merasa kelelahan, batuk kering, dan demam. Ia pikir itu hal wajar karena akhir-akhir ini ia sering tidur larut malam dan memiliki aktivitas yang cukup padat dari biasanya. Semakin hari, sakit yang dirasakan Thalasya semakin parah. Thalasya dibawa ke rumah sakit oleh orang tuanya. Dokter mendiagnosis bahwa Thalasya terkena Covid-19 karena gejala yang dirasakan Thalasya sesuai dengan gejala Covid-19. Dokter pun mengusulkan Thalasya untuk dirawat dan melakukan tes swab.
Hasil tes menunjukkan bahwa Thalasya terkena Covid-19. Thalasya langsung melakukan isolasi di rumah sakit. Semakin hari keadaan Thalasya semakin memburuk. Orang tuanya sangat sedih karena anak semata wayangnya itu sendirian merasakan sakit yang luar biasa.
Satu minggu berlalu, keadaaan Thalasya sudah mulai membaik. Thalasya boleh pulang dari rumah sakit dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Tanpa disadari kondisi Thalasya kembali memburuk. Ia harus kembali isolasi di rumah sakit kembali. Seketika dada Thalasya merasa nyeri dan tertekan lalu ia sulit untuk bernafas. “Ya Tuhan, jika kau ingin membawaku pergi maka bawalah aku sekarang,” kata Thalasya dalam hati.
Thalasya terjatuh dari kasurnya dengan wajah pucat. Salah satu perawat melihatnya dan memanggilkan dokter untuk memberikan bantuan. Kondisi Thalasya kritis. Orang tua Thalasya yang mendengar kabar itu lemas seketika. Thalasya masuk ke dalam mimpi bundanya dan berkata, “Bunda jangan sedih ya, doain Lasya semoga bisa kembali dengan ayah dan bunda, Lasya masih ingin membanggakan ayah dan bunda”.
Pukul jam 00.07 ibundanya Thalasya terbangun dan menangis mengingat mimpi yang baru terjadi. Ayah Lasya terbangun dan kaget melihat istrinya yang tiba-tiba menangis. Bunda Lasya menceritakan mimpinya. Ayah dan Bunda Lasya pun solat malam dan mendoakan kesembuhan anaknya. “Ya Tuhan, janganlah engkau mengambil buah hati yang selalu membuatku Bahagia,” ucap bunda Thalasya sambil menangis.
Pagi hari, terdengar dering telepon dari gawai ibunda Thalasya. Kondisi Thalasya semakin memburuk, itulah hal yang terdengar ketika telepon itu diangkat. Thalasya kekurangan oksigen yang menyebabkannya susah bernafas. Dokter dan perawat mulai melakukan tindakan penyelamatan. Beberapa saat kemudian Thalasya menghembuskan nafas terakhirnya. Ibunda Lasya menangis karena anak yang ia sayang selama ini telah dinyatakan meninggal. Ayah Lasya sangat sedih dan ingin menangis, tapi ia khawatir akan membuat istrinya semakin sedih. Ayah Lasya mencoba menenangkan istrinya yang sedang menangis melihat anaknya yang sudah tak berdaya lagi.
4 Jam berlalu, orang tua Lasya berharap bahwa anaknya masih hidup. Cahaya lampu sudah mulai meredup, orang tua Lasya masih melihat anaknya dari kejauhan. Kuasa Tuhan. Jari Thalasya mengisyaratkan kalau ia masih hidup. Bunda Thalasya berteriak memanggil dokter untuk kembali merawat anaknya. “Kuasa Tuhan, ini benar-benar merupakan suatu keajaiban,” ucap sang dokter terkagum melihat kejadian tersebut.
Thalasya masih susah bernafas akibat penyakitnya. Hari demi hari keadaannya kian membaik, bahkan orang tuanya bisa menjenguknya. Bunda Thalasya tampak senang begitupun dengan ayahnya. “Thalasya kamu adalah anak yang hebat. Jaga kesehatanmu ya, nak,” kata sang dokter. “Siap pak dokter”, timpal Lasya. orang tua Lasya hanya tersenyum bahagia.
Setibanya di rumah, Lasya langsung membersihkan diri dan membaca buku yang pernah ia pinjam di perpustakaan. “Bunda, Lasya bosan bun, sudah 10 kali Lasya membaca buku ini berulang-ulang”, kata Lasya. “Hahaha, ya sudah apa kamu ingin mengembalikan buku itu ke perpustakaan, nak?”, ucap bunda. “Iyaaa”, sambung Lasya.
“Hari Senin itu membosankan,” ucap Lasya berteriak di depan layar laptop. Selesai pembelajaran pukul 13.40 Lasya meminta bunda untuk langsung ke perpustakaan. Demi anak kesayangannya, bundanya pun setuju. Setibanya di perpustakaan dia mengembalikan buku yang pernah ia pinjam lalu ia mencari buku yang menarik dan bermanfaat bagi orang lain. Setelah 1 jam mencari buku, akhirnya ia menemukan buku yang menarik. “Nah ketemu, ini buku yang luar biasa, aku harus membacanya,” ujar Thalasya.
Thalasya meminjam buku yang berjudul “Mudahnya Cara Menjaga Kesehatan”. Menurut Lasya ini adalah harta baginya. Dia sangat senang ketika akan membaca. Lasya membaca halaman demi halaman. “Wah buku ini sangat menarik”, ujar Lasya. Dia membaca hingga buku itu selesai. Thalasya lagi-lagi terinspirasi dari sebuah buku yang dibacanya. Ia ingin membuat penelitian pembersih tangan dari bahan yang mudah di dapatkan, sebelum itu Lasya harus meneliti pembersih tangan yang aman dipakai.
Bunda Lasya juga ternyata pandai dalam hal ini. Lasya di bantu bunda dalam melakukan penelitian. Lasya melakukan uji coba sadewa. Uji sadewa 50% dan tanpa sadewa. Setelah beberapa hari kondisi sadewa 50% asam nilai pH 5. Sadewa 25% asam pH 4. Pembersih tangan merek A nilai pH 6.
Lalu bunda bertanya pada Lasya. “Lasya, jadi pada uji coba yang sudah kita lakukan apa yang dapat kamu simpulkan?”, tanya bunda. “Karena pembersih tangan yang bagus memiliki pH yang sama dengan kulit, sadewa yang paling sesuai pH nya adalah 50% sadewa 25% memiliki pH 4 yang tidak memiliki pH yang sama dengan kulit dan bisa menyebabkan iritasi”, jelas Thalasya. “Iya, Lasya benar dari sini kita bisa membuat pembersih tangan yang baik dan benar karena berhasilnya sebuah pembersih tangan adalah karena kemampuannya untuk dapat membunuh bakteri di tangan kita”, jelas bunda.
Leave a Reply