Oleh UNA
Dear mutiara bunda yang senantiasa berkilauan,
Pagi ini … langit berwarna biru cerah, berhiaskan awan-awan putih selembut kapas, membuat betah mata memandang. Sang surya dengan malu-malu mulai menampakkan separuh wajahnya, bersama sang bayu yang dengan lembut menyentuh wajah, perlahan membelai rambut.
Ah…betapa indahnya, ingatkah kau ketika kita bersama-sama duduk di bangku taman belakang istana kita yang mungil ini? Saat itu engkau masih begitu kecil, terlindung dalam lapisan kuat salah satu maha karya sang pencipta yang tak ada duanya. Kita berdua duduk disini, dengan tenang mendengarkan dan terkadang melantunkan pula alunan ayat-ayat suci, menunggu engkau lahir menyapa dunia.
Setelah beberapa lama, akhirnya dengan izin sang pencipta, engkaupun lahir menyapa dunia. Alangkah bahagianya bundamu ini, segala kesusahan terlupa, hilang tak berbekas, tergantikan kebahagiaan bertemu denganmu yang begitu imut dan mungil. Dan mulai saat itu pula bersama-sama kita menghadapi hidup yang penuh warna-warni, suka dan duka.
Hari demi hari berlalu dengan lambat dan juga cepat. Lambat … karena masa-masa kecilmu dengan bundamu ini tak pernah terlupa. Bila mengingatnya, bundamu ini sering tersenyum dan tertawa sendiri, dan terkadang sedih. Tersenyum dan tertawa ketika mengingat perilakumu yang lucu dan menggemaskan. Sedih karena teringat dengan perilakumu yang kadang tidak sesuai dengan harapan bunda, bundamu ini hanya bisa memarahimu, seakan-akan tidak ada cara lain selain memarahi. Bila mengingatnya bundamu ini hanya bisa tersenyum getir, menyesali kebodohan yang terlanjur terjadi. Mengapa dulu tidak begini, mengapa dulu tidak begitu? Namun kadang terbetik dalam hati, apa gunanya menyesal? Hidup ini akan terus berlanjut maju, tak bisa mundur kembali ke masa lalu, kita berdua hanya bisa menjalaninya bersama bagaikan aliran air sungai yang terus mengalir hingga lautan.
Hari pun berlalu dengan cepat, tak terasa saat ini engkau sudah tumbuh besar, kokoh, mandiri menghadapi hidup. Berkebalikan dengan bundamu yang mulai rapuh dan lemah. Kebersamaan kita pun mulai berkurang. Dan mulai saat ini, mungkin Bunda hanya bisa menatap dan mengawasimu dari jauh. Bunda percaya engkau bisa menghadapi dunia ini dengan baik. Bunda hanya bisa mendoakan kebaikanmu, kebahagiaanmu, dan memohon pada Maha Pencipta untuk selalu menjagamu, menjaga duniamu, juga menjaga akhiratmu. Maafkan bundamu yang terkadang tidak mengerti apa yang ada dalam benakmu, hingga membuatmu salah tingkah, bingung ataupun sedih. Namun hanya satu yang perlu engkau tahu, apapun yang terjadi, bunda selalu menyayangi dan mendukungmu.
Dari bundamu yang sedang menikmati pagi yang cerah di bangku taman halaman belakang istana mungil kita…
####
Bunda…bunda… ah tak terasa air mataku menetes perlahan jatuh ke pangkuan. Selembar kertas berisi tulisan tangan bunda masih tergenggam erat di kedua tanganku. Aku bersimpuh dihadapan bunda yang telah beristirahat dengan tenang. Aku hanya bisa memandangnya lama sambil melantunkan banyak doa kepada Maha Pencipta berharap ampunan-Nya untuk bundaku.
Pagi ini … langit berwarna biru cerah, berhiaskan awan-awan putih selembut kapas, membuat betah mata memandang. Sang surya dengan malu-malu mulai menampakkan separuh wajahnya, bersama sang bayu yang dengan lembut menyentuh wajah, perlahan membelai rambut. Lihatlah bunda, betapa indahnya…bunda…saat ini kita sedang duduk bersama.
Ya…duduk bersama, namun di tempat yang berbeda. Tidak lagi di bangku taman halaman belakang istana kita yang mungil, namun di hamparan luas beralaskan rerumputan dan beratapkan langit. Kebersamaan kita pun mulai berkurang. Namun hanya satu yang perlu bunda tahu, apapun yang terjadi, ananda akan selalu menyayangi, mengingat dan mendoakan akhiratmu serta memohon kepada Maha Pencipta untuk memberikan ampunan-Nya kepada bunda.
Kuhapus air mataku, perlahan berdiri, kutatap pusara bunda, kemudian memandang langit, kutatap kembali pusara bunda, “Selamat beristirahat bundaku tersayang”. Dengan tegar, aku berbalik dan melangkah menjauhi tempat peristirahatan bunda.
Ah…bunda… Pagi yang cerah … langit berwarna biru cerah, berhiaskan awan-awan putih selembut kapas, membuat betah mata memandang. Sang surya sudah tidak lagi malu-malu menampakkan separuh wajahnya, bersama sang bayu yang dengan lembut menyentuh wajah, perlahan membelai rambut.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِوَ الِدَىَّ وَارْ حَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَا نِى صَغِيْرًا
“Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, serta berbelaskasihlah kepada mereka berdua seperti mereka berbelas kasih kepada diriku di waktu aku kecil.”
Leave a Reply