Karya Arwen Arundhati
“Dia datang!” Tello melangkah ke dalam kelas dengan rasa gugup. Diantara beberapa murid yang menyadari kedatangan Tello ada yang siap-siap bergosip. Tello duduk di tempat duduknya. Tello terlihat kalau dia baik-baik saja tentunya, walaupun dia sebenarnya cukup gelisah.
Lagi-lagi begini. Dimana saja sama saja. Tello terlihat sedikit berbeda dari teman-temannya. Tello berkulit gelap. Tello pun berambut ikal. Wajar saja sih, dia bukan orang asli daerah ini. Orang tuanya merantau ke kota ini. Di sekolah dan di sosial media, Tello merasa tidak aman. “Bercanda saja sih,” tapi bercandaan itu secara tidak langsung membuat Tello tidak nyaman. Percaya diri Tello cukup kurang. Terkadang, dia menonton serial televisi dan orang-orang sepertinya dijadikan antagonis. Tello kadang berkomentar di social media terkadang ada yang membalas komentarnya dengan “Ah, kulit gelap aja gaya,” dan seketika dia hanya meratapi komen tersebut. Sebenarnya teman-teman tidak begitu serius dan tidak sampai melukai secara fisik, tapi dia hanya merasa saja kalau dia dijadikan buah bibir gosip-gosip untuk beberapa murid dan seperti agak dibedakan dengan teman-teman sekelasnya.
Ibu Tello selalu bilang orang yang cukup berbeda seperti Tello itu normal. “Di negeri kita ini juga bermacam-macam orangnya, suku dan rasnya, warna kulitnya, bahkan agamanya, apa yang membuat kamu gelisah?” Ibu Tello hanya berkata begitu. “Sekolahku itu tempat yang salah begiku itu sebabnya aku malah menjadi seperti ini?” Tello pernah berpikiran seperti itu. Tello pernah meminta kepada orangtuanya untuk pindah sekolah. Orangtuanya tidak setuju dan hanya bilang untuk beradaptasi dan berusaha untuk menunjukkan kalau Tello hebat saja di sekolahnya. “Memangnya adaptasi dan menunjukkan kalau kita hebat semudah itu?” Tello bergumam seperti itu ketika diberitahu oleh orangtuanya. Dia sebenarnya berpikiran kalau alasan sebenarnya orangtuanya tidak setuju karena mereka kekurangan uang saja untuk pindah sekolah.
Suatu hari di sekolah Tello, terdapat kabar kalau akan ada murid pindahan, anak-anak sekelas tampak senang dan mereka memikirkan kalau anak pindahan itu akan sesuai ekspetasi mereka. Tello tidak begitu bersemangat tentang hal ini, dia berpikir bahwa murid pindahan itu akan sama saja seperti teman-temannya. Jadi, Tello biasa saja soal murid pindahan ini.
Akhirnya, murid pindahan itu bersekolah di sekolah Tello. Namanya Abimana Yong, panggilannya Abi. Warna kulitnya kuning langsat, matanya cukup sipit. Menurut Tello, dia anak keturunan tionghoa yang tinggal di Indonesia. Beberapa anak tampak cukup kecewa. Mereka tidak begitu suka orang-orang keturunan tionghoa. Murid pindahan itu pun menjadi buah bibir gosip-gosip beberapa murid layaknya Tello. Tello berempati kepada murid Abi.
Abi sebenarnya suka mengamati Tello. Akhirnya, Tello menyadari kalau Abi sering mengamatinya. Tello dan Abi pun akhirnya berteman. Mereka cepat akrab karena Tello merasa Abi sangat mengerti apa yang dia katakan. Mereka suka berbagi cerita aneh, pemikiran yang aneh, Abi yang suka menggambar sangat suka memarken hasil gambarannya kepada Tello dan mereka saling mendukung. Terkadang, Tello tidak sengaja mendengarkan orang yang sedang bergosip tentang Abi, penggosipnya terkadang sadar kalau ada Tello, Tello pun menatap mata penggosip tersebut dengan tatapan yang cukup seram, mereka pun berhenti bergosip. Abi juga cukup sering menenangkan Tello yang terkadang gelisah karena warna kulitnya yang tidak cukup terang. Tello sering tidak percaya diri menunjukkan tangannya kepada teman-temannya.
Pada suatu hari, sekolah mengadakan bersih-bersih dan dekorasi kelas, saat Tello mengepel kelas, ada dua murid yang sedang bergosip tentang Tello, Abi pun menyadarinya. Abi yang tengah sedang membersihkan debu dengan kemoceng langsung mendekati mereka dan Abi seketika menjadi tegas dan memberi tahu kedua murid tersebut untuk berhenti bergosip dan ikut bekerja. Akhirnya, yang bekerja semakin banyak. Bersih-bersih dan dekorasi kelas pun cepat selesai.
Keesokan harinya, seorang Bu Danita, guru BK (Bimbingan Konseling) melihat Tello yang tengah sedang menulis cerita untuk menemani Abi membaca komik pinjamannya di perpustakaan. Entah kenapa, semenjak bertemu Abi yang suka bercerita tentang hal aneh-aneh, Tello memulai untuk mengolah cerita yang Abi ceritakan. Bu Danita itu juga kebetulan sedang mencari beberapa murid untuk menulis cerita pendek dan cerita itu akan dibuatkan buku. Bu Danita pun bertanya kepada Tello, apakah dia akan setuju umtuk ikut menulis cerita itu. Tentu, Tello tidak menolak.
Sepulang sekolah, Tello memakai komputer ayahnya dan menulis cerita pendek, Tello memutuskan untuk menulis cerita dengan tema keberagaman agama, suku atau ras, dan warna kulit itu normal dan harus dihargai. Dia merasa sudah tidak tahan lagi. Bercandaan yang memicu rasisme rasanya sudah tidak lucu lagi. Setelah cerita pendeknya selesai, ceritanya dibaca Bu Danita, Bu Danita pun menjadikan cerita pendeknya menjadi cerita pendek pertama dari kumpulan cerita pendek murid lainnya.
Buku kumpulan cerita pendek murid-murid sekolahnya akhirnya selesai. Buku itu pun dilipat gandakan dan dibagikan ke murid-murid sekolah, termasuk Abi. Abi membaca cerita pendek Tello dengan mata berbinar-binar. Abi cukup senang melihat Tello menulis cerita pendek, tidak sia-sia dia mengajak Tello ke perpustakaan saat itu. Teman-teman Tello pun membaca cerita pendek Tello, mereka pun merasa terhina, tapi mereka sadar bahwa bercandaan mereka tidak lucu bagi beberapa orang. Orang yang membicarakan tentang Tello dan Abi pun berkurang.
Tello sekarang suka menonton video-video di internet, Tello pun menonton video motivasi, “Seperti apapun kamu, kamu tetap kamu” percaya diri Tello sedikit meningkat. Semakin lama, video mempromosikan keberagaman di internet terus bertambah. Di internet terkadang bila ada orang berkomentar sesuatu yang memiliki unsur kebencian atau tertutup terhadap keberagaman, pasti ada yang membalas komentarnya dan memberi tahu kalau itu salah di kolom komentar itu. Video motivasi di Internet sekarang ada banyak sekali, video yang mempromosikan keberagaman Indonesia juga banyak. Percaya diri Tello semakin lama, semakin membaik, sekarang setiap kali Tello memasuki ruangan kelas, dia sudah tidak gugup lagi. Sekolah pun makin lama, semakin rukun semakin ramai. Hasrat lama Tello untuk pindah sekolah pun hilang.
Tello dan Abi tumbuh besar. Indonesia menjadi lebih rukun lagi. Sekarang, Tello dan Abi sedang menulis buku bersama. Sebenarnya Abi yang menawarkan, karena Abi teringat saat Tello menulis cerita pendek untuk buku kumpulan cerita pendek di sekolah dapat menggerakan hati beberapa murid, jadi Abi merasa orang-orang yang membeli buku mereka akan bereaksi yang sama. Tello mengolah gagasan-gagasan Abi dan mengetikkan cerita sedangkan Abi memberi gagasan cerita dan membuat ilustrasi.
Indonesia semakin lama, semakin maju. Tidak seperti dulu lagi, sekarang banyak orang lebih terbuka ke keberagaman. Walaupun sampai sekarang, masih ada saja yang masih mencoba untuk merusak kerukunan dan kedamaian ini, setidaknya sudah berkurang tidak sebanyak dulu lagi. Kita semakin lama semakin menyadari kalau keragaman adalah salah satu dari keunikan negara kita yang tentunya kita tidak mau kehilangan keragaman itu. Kita masih tinggal di Negara Kesatuan yang sama, kita masih satu nusa dan satu bangsa, jadi itu tidak penting apapun suku dan ras, warna kulit, dan agama, masih bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Leave a Reply