MONUMEN GRAVITASI

Karya Greyfn Rezki El Rumi

Pada pagi hari. Aku Menuju ke suatu tempat. Orang-orang menyebutnya sebagai monumen gravitasi. Yang bisa membuat orang bersedih menjadi gembira. Bisa menjadikan seseorang melupakan sejenak sejarah kehidupannya. Aku belum pernah melihatnya. Baru kemarin aku tiba di kota ini. Bahkan, tadi malam pun aku tidak punya tempat untuk tidur.

Tempatnya berada di pinggir kota. Berada di ujung jalan yang sempit. Aku tiba di sana. Saat matahari sepenggalan naik. Ternyata seperti gunung. Atau bukit lebih tepatnya. Aku harus menanjak naik ke atas. Inikah yang di sebut monumen. Penduduk setempat menyebutnya demikian. Tidak seperti monumen. Ini adalah bukit. Hijau. Banyak pohon pinus. Dan dingin.

Setelah satu jam, aku sampai di puncak. Banyak pohon pinus. Sinar matahari tidak bisa menyentuh tanah. Satu jam tepat aku sampai di puncak. Jam di arlojiku menunjukkan jam 10 pagi. Aku duduk di bawah pohon pinus.

Kota ini aneh. Ketika aku datang melalui kereta listrik layang, aku terjaga secara tiba-tiba. Aku melihat penduduk kota dari jendela kereta. Kenapa penduduk kota ini relative pendek? Dan gedung-gedung di kota ini juga tidak tinggi. Mobil-mobil yang berjalan di samping kereta juga sangat pendek. Pendek sekali. Seolah-seolah tidak dapat di kendarai oleh satu orang. Padahal, aku melihat ada dua orang di dalam mobil.

Kota ini Aneh sekali. Ketika aku turun dari kereta, semua terlihat normal. Tinggi penduduk kota normal, mobil – mobil normal dan Gedung pun normal. Seperti kota-kota yang lain.

Kota ini aneh. Belum lama aku meningglkan stasiun kereta, aku melihat mobil-mobil berjalan di depanku. Mobil-mobil di kota ini sangat panjang. Mobil yang bergerak di jalanan kota ini seperti mobil limo yang ada di jalanan Los Angeles. Sangat panjang. Dan berbeda dengan mobil yang ada di parkiran stasiun. Mobil yang di parkiran stasiun seperti mobil – mobil normal pada umumnya.

Kota ini aneh. Ada mobil yang sangat pendek. Ada mobil yang sangat panjang. Dan ada juga mobil yang normal panjangnya. Aku berpikir mungkin inilah revolusi industri generasi empat.  Dan hanya ada di kota ini.

Kota ini mengasyikkan. Tapi juga menyimpan keanehan bagiku. Mobil-mobil yang pendek hanya aku lihat ketika aku berada di kereta yang sedang bergerak. Dan mobil-mobil yang sangat panjang tersebut hanya aku lihat ketika aku sudah turun dari kereta. Dan mobil tersebut bergerak.

Kota ini menyenangkan. Tapi tidak normal. Tidak seperti kota-kota yang lain. Aku mencari gedung-gedung yang pendek. Seperti yang aku lihat di dalam kereta. Aku tidak menemukannya. Semua gedung normal. Tingginya beragam. Sesuai dengan tingkatnya. Dimana gedung-gedung pendek yang aku lihat di dalam kereta tersebut? Apakah ini kota liliput? Atau kota kurcaci. Aku juga mencari orang-orang pendek yang aku lihat dari dalam kereta. Tidak ada. Semuanya normal ketika aku turun dari kereta.

Pohon pinus di bukit ini membuatku mengantuk. Atau penduduk kota ini menyebut bukit ini sebagai monumen gravitasi. Sejenak aku tertidur. Melupakan keanehan di kota ini. Kira-kira satu jam aku tertidur.

Aku melihat jam tanganku. Aku heran. Jarum jam masih menunujkkan pukul 10. Aku lihat sekali lagi. Kali ini dengan mendekatkan mataku dengan jam tangan. Masih tetap jam 10. Aku masih heran. Aku tertidur agak lama. Kira-kira satu jam aku tertidur. Kira-kira menurutku ini sudah jam 11. Aku mengintip ke atas. Di sela-sela daun pohon pinus. Berharap sinar matahari memberitahuku kalau ini sudah siang. Tidak pagi lagi. Dan berharap jam tanganku yang salah. Berharap jam tanganku battery-nya habis. Dan aku tidak perlu menyimpan perasaaan aneh: jarum jam di tanganku kenapa bisa berhenti?

Aku memutuskan untuk turun. Menuruni bukit ini. Yang di penuhi oleh pohon pinus yang rindang. Tak seberapa lama aku sampai di kaki bukit. Atau penduduk kota ini menyebut bukit ini sebagai monumen gravitasi, Yang bisa membuat orang bersedih menjadi bahagia. Yang bisa membuat orang sejenak melupakan sejarah kehidupannya.

Aku melirik jarum jam di tanganku. Masih penasaran. Apakah jam tanganku sudah hidup. Aku berharap jam tangan ini masih hidup. Harapanku terkabul. Jarum jam di tanganku telah bergeser 5 menit dari angka 10. Aku tahu, sekarang sudah pukul 10.05 pagi hari.

Tapi aku belum mengerti tentang satu hal. Kenapa penduduk kota menyebut bukit ini bisa menghilangkan kesedihan. Aku merasakan biasa-biasa saja. Aku tidak merasa kesedihanku hilang. Aku tidak merasa bahwa aku bisa melupakan sejarah kehidupanku.

Aku masih merasakan bahwa aku datang ke kota ini untuk melupakan kotaku. Tidak ada yang lebih menyakitkan selain kita terusir dari rumah sendiri. Hanya karena sebuah prinsip. Aku tidak ingin kotaku di bangun dari uang hasil penipuan. Prinsip ini yang membuatku terusir. Akhirnya aku sampai di kota ini. Dan baru saja aku mendaki bukit yang di namakan monumen gravitasi. Yang katanya bisa membuat orang melupakan sejarah kehidupannya. Tapi aku tidak merasakan apa-apa. Masih sama seperti sebelum naik ke bukit ini.

Aku pun memtuskan untuk kembali ke kota ku.

Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *