Berkarya di Masa Pandemi

Karya Marcha Rizki Radiman

Aku Leira Alisya Besari, biasa dipanggil Lera. Terlahir dari orang tua yang berprofesi sebagai penulis , tetapi aku tidak ingin seperti mereka. Kenapa? Bukan karena takut darah atau jarum suntik tetapi aku tidak tertarik dengan yang namanya membaca atau menulis, aneh sekali seperti kutu buku.

Semuanya berawal dari bulan Maret, ketika musibah datang ke dunia. Menghibur dengan cara berdiam dirumah, bekerja dirumah, sekolah dirumah dan aktivitas pun juga dirumah. Momen asik yang sudah direncanakan bersama keluarga, kerabat terpaksa harus dibatalkan supaya terlindungi dari virus COVID – 19 ini. Kalian ngerasa suntuk atau bosan sekali gasih? Aku iya.

Berdiam dirumah membuatku semakin malas, tidur pun sering begadang. Suatu hari, aku ingin sekali keluar rumah bersama salah satu sahabatku, Dinda.

“Halo, Din? Sibuk ga?” tanyaku kepada Dinda.

“Engga Le, Kenapa? Tumben kangen ya?”

Dinda, anak yang sangat kepedean. Aku sering sebut dia Dindap yang berarti “Dinda mantap”. Singkat cerita, aku mengajak Dinda ke suatu mall. Memakai masker dan tak lupa membawa hand sanitizer, hanya membeli dua minuman dan cemilan ke supermarket. Mall sepi sekali karena memang lagi ada wabah seperti ini.

“Le, toko buku yuk?”

Ajakan yang selalu terlontarkan oleh Dinda setiap kita jalan yaitu ke toko buku. Biasanya aku cuman nunggu di depan toko buku, bermain handphone sambil mendengarkan lagu dari artis favoritku, Taylor Swift. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu diluar dan Dinda masuk ke toko buku tersebut.

Aku melihat kanan dan kiri sambil menikmati musik yang sedang didengar oleh telingaku, dan terlihat sebuah banner Taylor Swift yang mau mengeluarkan albumnya. Aku berfikir, apakah album ini dijual di toko buku ini?. Aku memutuskan untuk masuk dan mencoba mencari album tersebut.

“Le, gue beliin novel nih buat lo”

Aneh sekali Dinda, tidak seperti biasanya. Aku tidak suka baca, apalagi baca novel yang satu buku saja lembarnya banyak sekali.

“Apaan nih? Gue kan gasuka baca. Gue masuk toko cuman penasaran aja sama banner di depan” ucapku.

Banner? Oh, Taylor Swift? Nah, lo tuh gapernah baca sih. Tuh liat!, Coming Soon. Makanya baca dong, untung gue beliin novel ini gue yakin lo ketagihan”

Sungguh, aku males sekali menerimanya. Dinda sudah peduli kepadaku untuk harus membaca, dia menyuruhku untuk membaca satu buku ini saja, tetapi dia yakin aku akan menyukainya dan malah ketagihan. Apasih serunya membaca? Tulisan – tulisan yang hanya membuat kepala kita menjadi pusing.

“Din, makasih ya tumpangannya. Stay safe ya, makasih juga udah nemenin gue keluar rumah walaupun ga selama biasanya sih”.

“Yaampun Le, kayak sama siapa aja. Santai, eh jangan lupa baca ya bukunya, hehe.” Jawab Dinda.

Aku pun hanya tersenyum dan langsung masuk rumah, ternyata ibuku sedang memasak nasi goreng. Jangan salah, ibu walupun seorang penulis tetapi masakannya sudah seperti chef.

“Bu, udah lama nih gamasak. Enak tuh baunya” ucapku.

“Eh kamu, walaupun sedang dirumah seperti ini, ibu tetep produktif lah. Nulis, baca, abis itu masak sekalian belajar biar makin lama makin enak masakannya. Udah daripada kamu menggoda ibu, mending kamu ke kamar, mandi”. Jawab ibu yang sedang mengiris bawang

Benar kata ibu, aku hanya menggoda ibu saja, ibuku kalau memasak tidak suka yang namanya bantuan, apalagi sama aku. Setiap aku membantu ibu memasak, aku suka asal saja memasukan bumbu, karena aku malas sekali membaca resep. Aku biasanya kalu membaca, kalau ada ulangan, atau ada tugas penting.

Setelah mandi dan berpakaian, aku pun langsung penasaran dengan novel yang diberikan oleh Dinda. Lalu, aku pun mencoba untuk membaca dan mencari tempat yang nyaman yaitu sofa. Aku perlahan lahan membaca, dan membalikkan kertas perlahan – lahan. Sambil menikmati minuman yang tadi dibeli bersama Dinda.

Tak terasa, satu jam pun aku menyelesaikan 100 dari 250 halaman. Wah, sangat menakjubkan. Novel ini mengajarkanku membaca itu sangat penting, dengan membaca kita jadi tahu informasi yang ada di sekitar kita. Semenjak itu aku pun seminggu sekali membeli buku dan membacanya. Terkadang aku mengajak Dinda untuk membaca buku bersama ku dirumah, kemudian kita suka cerita – cerita tentang novel yang sudah dibaca masing – masing.

Aku pun sering juga menceritakan buku yang sudah kubaca kepada kedua orang tuaku, mereka menyuruhku untuk coba menulis. Aku berfikir bahwa di keadaan sedang pandemi seperti ini, menulis juga bisa mengisi waktu luangku untuk menulis. Aku akhirnya memutuskan untuk mencoba membuat novel dari pengalaman membaca ku.

Setelah novel ku jadi, dan ibuku ternyata menikmatinya. Katanya unik dan menurut ibu tulisanku bisa menjadi referensi untuk semua orang yang tidak suka membaca. Seiring berjalannya waktu, karya novel ku sudah diterbitkan di aplikasi yang berisi tentang kumpulan cerita, ternyata buku ku menjadi favorit di aplikasi tersebut dengan pembaca yang cukup banyak. Berkat dukungan dari kedua orang tua, kerabat dan masyarakat sekitar, aku menjadi seorang novelis yang terkenal, terutama untuk Dinda.

Waktu ku tidak terbuang sia – sia selama pandemi seperti ini. Selama waktu luangku, aku sering melakukan hal – hal yang bermanfaat, seperti membaca, menulis, membantu orang tua dan berolahraga yang membuat setiap hari ku semakin produktif. Ternyata membaca bukan suatu hal yang aneh, tetapi memang seru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *